3/4/2026 Confused every time
Oh hai Blogger, it's been a loooong time tidak update kabar ke sini. Aku selalu balik ke sini setiap kali merasa butuh meluapkan isi pikiran dan kegelisahanku.
So, here's the thing.
Mencintai diri sendiri dan menomor saatukan diri sendiri ternyata bukan hal yang mudah di dunia-negara- yang gonjang-ganjing ini. Bukan cuma soal proses penerimaannya, melainkan juga proses dalam berbaurnya. Gak semua orang paham bahwa mengatur batasan atas diri sendiri, memilih kesehatan mental diri sendiri dan mencintai diri sendiri itu adalah hal yang memang seharusnya. Penerimaan diri sendiri sejatinya untuk meningkatkan kenyamanaan kita atas keberadaan kita di masyarakat. Mengutamakan diri sendiri juga sejatinya adalah tindakan yang sebenarnya melindungi diri kita untuk jatuh lebih dalam dan merasakan sakit atas sesuatu yang tidak kita inginkan. Namun kenyataannya, memilih diri sendiri seringnya dicap sebagai kegiatan egois yang tidak memikirkan nasib orang lain atas keputusan yang kita buat.
In my noob mind, memilih diri sendiri adalah kegiatan menyelamatkan diri dari suatu kondisi yang jika dilanjutkan berkemungkinan untuk membuat kita menyesal.
Contohnya...
Aku memilih untuk melepaskan hubunganku dengan orang yang aku sayang namun bagiku hubungan tersebut tidak memiliki dampak ataupun progress dan tujuan yang jelas ke depannya. Bagi pasanganku, itu adalah sebuah keegoisanku karena meninggalkan dia dan menghentikan hubungan kasih sayang itu hanya karena aku tidak mau menunggunya dalam berproses. Tetapi bagiku, bersamanya selama bertahun-tahun dan menemaninya berproses sudah cukup karena di awal hubungan itu, keduanya sudah sepakat bahwa akhir hubungan itu adalah ijab qobul yang diaminkan oleh semesta. Bagiku, waktu menungguku sudah cukupdan aku tidak mau lagi menunggu. Baginya, aku tidak sabaran dan terlalu menekan.
See? Aku melindungi diriku dari perasaan ketidak pastian berkelanjutan. Baginya, aku hanya wanita cengeng yang merengek untuk segera dinikahi. Dicab tidak bersabar padahal lebih dari dua tahun bersabar bagiku juga masuk kategori bersabar. lantas, memilih diriku sendiri di sini sudah salah di matanya. Pun aku, sudah merasa bersalah sebab membuatnya tertekan.
Well, contoh di atas adalah kenyataan keadaanku sekarang yang membuatku harus kembali menyambangi blog ini kembali. Sebab, aku merasa tidaak memiliki siapapun untuk berbagi keeresahanku ini.
Yah... segitu daja kali ini. aku ingin berpikir lagim dan mungkin akan kembali lagi. Sebab keadaanpikiranku bena-benar layaknya desa yang dihantam puting beliung.

